“Eh Cha, kabarnya ada anak baru loh” seru Fana.
“Anak baru?” Chacha menoleh Fana.
“Iya, cowok Cha” Chacha hanya menggeleng kepala.
“Eh.. udah masuk Cha, yuk” ajak Fana.
Mereka pun masuk kelas. Di tengah pelajaran, guru BP masuk dan memperkenalkan murid baru.
“Oh.. Dicky toh” celetuk Fana.
“Kenal?” Fana menggeleng.
“Hehe.. enggak” Fana hanya cengar-cengir.
Jam istirahat, Chacha di kantin menunggu Fana yang ke toilet. Tak lama, Fana datang bersama anak baru itu.
“Dicky?” pekik Chacha.
“Hai Cha, nih katanya Dicky mau gabung sama kita” jelas Fana.
“Loe rayu ya?” Fana memanyunkan bibirnya.
Dicky tertawa mendengar pertanyaan Chacha.
“Haha.. gak kok, gue tadi gak ada temen, kebetulan Fana lewat, ya udah ikut dia aja” terang Dicky.
“Tuh! Dengerin!” Fana masih memanyunkan bibirnya.
“Iye iyeh, gue kasih sambel tuh mulut” Chacha siap dengan sesendok sambal.
Fana pun segera menutup mulutnya, Dicky hanya cengengesan melihat Chacha dan Fana.
“Ya udah, gue pesen baksonya dulu” Chacha dan Fana hanya mengangguk.
Pulang sekolah.
“Eh.. rumah loe dimana Fan?” tanya Dicky.
“Di komplek blok C” jawab Fana.
“Bareng yuk, gue juga disana” ajak Dicky.
“Yah.. gue mau ke rumah Chacha, mau ngerjain tugas dari pak Rangga tadi” jelas Fana.
“Oh iya ya, hampir lupa gue, untung loe ngingetin, ya udah gue ikut ya?” Fana mengangguk.
“Fannn.. ayo buru” Chacha teriak dari dalam mobil.
“Si Dicky mau ikut nih” ucap Fana.
“Ya udah ayo” Dicky menggeleng.
“Gue bawa mobil sendiri ya, tungguin gue, gue ikutin dari belakang” Chacha mengangguk.
Dicky pun segera menuju mobilnya dan mulai mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah Chacha, mereka bertiga segera mengerjakan tugasnya dengan serius. Setelah selesai, mereka meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, bertukar cerita begitupun dengan seriusnya Chacha dan Fana mendengarkan cerita Dicky. Setelah puas, Fana dan Dicky pun pulang bersama. Dicky yang meminta Fana untuk pulang bersamanya.
Esoknya, Chacha yang sudah menunggu taxi sejak tadi belum beranjak dari tempatnya. Padahal sudah hampir siang, tiba-tiba mobil sport hitam berhenti didepannya. Kaca mobil terbuka, Chacha membungkuk dan terlihat sosok pria manis dalam mobil itu.
“Bareng yuk, nanti telat, gue aja takut telat, gimana loe?” Chacha mengangguk dan akhirnya masuk ke mobil.
Sesampainya di sekolah, mereka pun segera berlari dari parkiran menuju kelas. Saat tiba di kelas mereka langsung duduk di ikuti tawa mereka.
“Hahaha..” tawa mereka geli.
“Eh.. loe siang banget sih datengnya!” tegur Fana.
“Haha.. itu juga kalo Chacha gak ketemu gue.. dia pasti dateng jam 10! Haha..” Dicky masih tertawa.
“Udah ah.. udah bel tau, ketawanya lanjutin entar aja haha…” Chacha sibuk mengambil buku dari dalam tasnya.
Di kantin, Fana dan Dicky sudah melahap habis makanannya. Sedangkan Chacha sibuk dengan I-Phonenya, sesekali melirik pada dua sahabatnya itu.
“Pengen ke toko buku” celetuk Fana.
“Ya udah nanti sama gue, gue juga mau nyari novel, loe ikut Cha?” Dicky melirik Chacha.
Ia menggeleng pelan lalu meletakkan I-Phonenya di meja dan menopang dagunya di tangan.
“Gue ada perlu sama bonyok, Ky.. gue nitip novel ya?” Dicky mengacungkan jempolnya.
“Pulang sekolah langsung?” tanya Dicky pada Fana.
“Iya, biar gak kesorean” jelas Fana.
“Siip” Fana memperhatikan setiap lekuk wajah Dicky yang sedang berbicara dengan Chacha.
“Rasa gue beda, cuma loe yang buat gue gini” batin Fana menatap Dicky.
“Ekhem.. ada yang falling in love nih..” Chacha meledek dan membuyarkan lamunan Fana. Ia sangat tau bahwa sedari tadi Fana sedang memperhatikan Dicky.
“Sama siapa?” tanya Dicky yang tak sadar sedari tadi di perhatikan Fana.
“Udah deh Cha, gak usah ngeledekin gue” elak Fana.
“Haha.. gak mau ngaku! Yang satu juga.. lola! Haha..” Chacha tertawa lepas.
Wajah Fana sedikit memerah, sedangkan Dicky yang belum mengerti masih bingung dengan apa yang di bicarakan Chacha dan Fana. Chacha masih saja tertawa lepas. Dicky hanya mengkerutkan dahinya, sedangkan Fana masih membungkam menahan malu.
“Jangan sampai.. nanti loe lebih muda dari pada gue” Dicky menyenggol Chacha, Fana menatap Dicky.
“Haha.. heh, tanpa gue harus ketawa juga pasti akhirnya ya tetep mudaan gue, plus kecenya haha..” Chacha masih saja tertawa bebas.
“Yee.. ya udah kalo kece, gue imutnya” Dicky menegakkan tubuhnya.
Chacha tertawa melihatnya.
“Kalo loe?” Fana terkejut dari lamunannya.
Fana yang tadinya menunduk sekarang menatap Dicky heran.
“Terserah loe pada aja” Fana kini angkat bicara.
Dicky dan Chacha kini sedang berpikir dengan Chacha yang mengetuk-ngetukkan jari pada dagunya dan Dicky menopang dagu pada tangannya. Tak lama, serentak mereka menjentikkan jarinya, fana menatap mereka bergantian.
“Mrs. Loving!” Dicky dan Chacha menunjuk Fana.
Fana terbelalak mendengarnya, mereka menurunkan telunjuknya yang tadi menunjuk Fana dan tertawa.
“Apa-apaan sih kalian?! Udah deh!” Fana menopang dagu pada tangannya.
“Haha.. udahlah Fan, terima aja haha..” Chacha terlihat senang karena hari ini berhasil menjaili Fana.
“Udah masuk tuh! Ayo!” Fana beranjak dari tempatnya.
“Woles mba bro” Dicky tertawa di ikuti Chacha.
Fana memanyunkan bibirnya sepanjang jalan menuju kelas.
“Katanya terserah kita, tapinya ngambek” ledek Chacha.
“Sssttt.. udah diem!” Fana ketus.
“Jiahh.. dia mayah Ky” Chacha melirik Dicky.
Dicky menatap balik Chacha dengan wajah meledek Fana, Chacha terkekeh kecil. Fana hanya memalingkan wajahnya dari mereka berdua.
Pulang sekolah, seperti rencananya tadi. Fana dan Dicky pun pergi ke toko buku. Sesampainya disana, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sekian lama, Fana mulai memandang Dicky dan sesekali tersenyum sendiri. Sedangkan Dicky, ia sibuk mencari novel baru dan memilih-milih novel pesanan Chacha.
“Mana ya yang bagus? Entar dia gak suka lagih” gumam Dicky.
Senyumnya sedikit mengembang saat melihat cover sebuah novel.
“Pas” serunya.
“Gimana? Udah milih?” tanya Fana yang baru saja menghampiri Dicky.
Dicky mengangguk seraya tersenyum, mereka pun membayar belanjaan mereka dan segera pulang. Di rumah, Dicky terus-menerus tersenyum memandang cover novel pesanan Chacha.
“Gue banget!” sesekali ia bergumam dan tersenyum.
Esoknya di kantin, setelah makan seperti biasa mereka selalu berbincang-bincang.
“Nih Cha novelnya” Dicky menyodorkan novel.
Chacha pun tersenyum membaca judul di covernya, Fana melihatnya heran.
“Ada apa sih sama novel itu?” Chacha dan Dicky melirik Fana.
“Kemaren loe senyam-senyum sendiri liat novel itu” Fana memandang Dicky.
“Sekarang loe” balik memandang Chacha.
“Sebenernya apa sih judul tuh novel?” Chacha melihatkan cover depan novel itu.
“My.. love.. never die” Fana mulai tersenyum.
“Siapa yang gak bakal senyum coba? Sampai orang gila pun pasti senyum” celetuk Dicky.
“Ya iya lah!” Dicky hanya menutup telinganya mendengar bentakkan dua cewek ini.
“Biasa aja sih bu!” protes Dicky seraya melepaskan tangannya dari telinganya.
“Huhh dasar!” Fana meledek.
“Kalo loe udah selesai baca gue pinjem ya” Chacha mengangguk.
“Ini berapa Ky?” Chacha menunjukkan novelnya.
“Udah buat loe aja, anggep aja kenang-kenangan dari gue, loe simpen tuh” Dicky meminum esnya.
“Okeh thanks ya Ky, tenang bakal gue simpen, kalo gue pergi, entar gue simpen di tempat yang gue percaya haha..” Chacha tertawa karena perkataannya sendiri.
“Ya loe bawa lah, ngapain di simpen” ucap Fana.
“Ya gak bisa lah Fan haha, rada-rada loe” Fana semakin bingung.
“Emang loe mau pergi kemana sih?” Chacha berhenti tertawa.
“Gak tau deh, ikut takdir aja” hening.
“Jalan ketaman yuk nanti!” ajak Dicky.
“Gue gak bisa, gue mau ke Jakarta sampe lusa” jelas Fana.
“Besok gak sekolah dong!” seru Chacha.
“Yapp” seru Fana mantab.
“Ya udah kita aja Cha” semua menoleh Dicky.
“Ya udah” Chacha mengiyakan.
Sorenya, mereka berdua jalan-jalan di sekitar taman. Setelah itu, mereka pun duduk di bangku taman.
“My love never die” Chacha menoleh pada Dicky.
“For you” Dicky menatap Chacha lekat.
“Loe kenapa sih Ky? Mulai lebay deh” Chacha kembali menatap ke depan.
“Aku serius” Dicky juga menatap ke depan, Chacha pun menoleh.
“Aku?” batin Chacha.
“Jangan ngaco deh ngomongnya” Chacha heran.
“Apa aku gak boleh cinta sama kamu?” Chacha salting.
“Ya.. ya boleh, tapi.. tapi maksudnya apa?” Dicky kini menoleh.
“Aku mencintaimu” Dicky pun berlalu meninggalkan Chacha yang masih terduduk di bangku taman sendiri.
Chacha termenung sejenak dan akhirnya berlalu. Sejak kejadian kemarin sore, Chacha dan Dicky lebih sering bungkam dari pada bergurau.
“Emm.. apa enak kayak gini terus?” Dicky mulai membuka mulut.
“Ya enggak sih, Fana juga nanti curiga” sahut Chacha.
“Ya udah bersikap normal aja, kayak biasa” Dicky berusul.
Chacha hanya mengangguk setuju, mereka pun pergi ke kantin.
“Kangen sama Fana” celetuk Fana.
“Baru juga sehari, lusa kan dia udah masuk lagi” Dicky hanya menggelengkan kepala.
“Hehehe..” Chacha hanya cengar-cengir.
—
“Minggu pagi, cerah” gumam Chacha yang menatap ke luar jendela kamarnya.
Sedikit senyum, namun gelisah. Terdengar ada yang mengetuk pintu kamar, Chacha pun membukanya.
“Ada Fana di depan” ucap wanita paruh baya ini.
Chacha mengangguk, senyumnya seketika mengembang. Chacha segera menuju ruang tamu, di lihatnya sofa di ruang tamu, senyumnya semakin mengembang.
“Fanaaa..” teriaknya.
Fana yang sedang minum seketika menatap Chacha yang baru muncul, Chacha duduk di samping Fana.
“Kangen tau..” keluh Chacha manja seraya memanyunkan bibirnya.
“Lebay loe!” Chacha hanya cengengesan.
“Kan sepi tau” ucap Chacha.
“Iya aja deh.. eh, gue mau curhat nih” Fana sedikit mendekat.
“Tentang apaan?” tanya Chacha merespon.
“Perasaan gue” Fana tersenyum.
“Perasaan apaan?” Chacha mengambil segelas jus di meja dan meneguknya.
“Ih Chacha, gak asik deh, ya perasaan gue ke Dicky lah.. gue cinta sama dia” frontal Fana santai.
“Uhukk..” Chacha tersedak minumannya.
“Ciyuss..” mata Chacha menyelidik.
Fana mengangguk mantap, ia pun menatap Chacha yang menjadi murung.
“Gue bantu loe deh ya?” tawar Chacha.
“Thanks sweet” senyum Fana mengembang.
Chacha hanya tersenyum miris menatap Fana. Setelah lama ngobrol, Fana pun pulang dengan sejuta senyuman.
Di sekolah hari ini, hanya Fana yang terlihat ceria, sedangkan Chacha dan Dicky hanya murung sedari tadi dengan tatapan kosong. Chacha menatap sekeliling taman yang ada disampingnya dan Dicky menatap semua bangku kantin seraya mengaduk-aduk minumannya. Chacha sedikit-sedikit merespon gurauan Fana, ia masih memikirkan tentang Dicky dan Fana. Bagaimana? sesekali pikirannya bertanya. Sedangkan Dicky, entah apa yang ia pikirkan, ia seperti merasa bosan.
“Loe berdua kenapa sih? Dari tadi diem aja, ngelamun mulu” Fana merasa heran.
Chacha dan Dicky pun menatap Fana.
“Gue bosen!” Dicky datar dan membiarkan minumannya lalu pergi.
Fana dan Chacha menatap kepergian Dicky, tetapi Chacha kemmbali menatap taman.
“Loe ada masalah? Apa loe keberatan bantuin gue?” tatapan Fana menyelidik.
Chacha menegakkan tubuhnya menatap Fana setelah itu menunduk.
“Kalo gitu harusnya gue nyesel dong tawarin bantuan, malah harusnya tawaran itu gak ada” jelas Chacha.
“Terus loe kenapa?” tanya Fana.
“Taulah.. kayak ada yang ngeganjel di pikiran, gue duluan ya” Chacha pun pergi.
Saat menuju kelas, ada yang menelpon Chacha. Chacha mengangkatnya yang ternyata dari mamanya, setelah menutup telepon ia langsung berlari kencang entah kemana.
“Dari mana loe?” tanya Dicky pada Chacha yang baru masuk kelas.
“Tau nih, masa gue duluan yang sampe, kan tadi yang pergi loe duluan” sahut Fana.
Tetapi Chacha tak menggubrisnya, ia malah pergi kembali setelah mengambil tasnya.
“Dia kenapa sih? Mau kemana lagi dia?” Fana heran.
Dicky hanya mengangkat kedua bahunya.
Dicky dan Fana memutuskan akan ke rumah Chacha sepulang sekolah. Saat di rumah Chacha, mereka heran karena rumahnya sepi.
“Kok sepi sih?” Fana heran.
“Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah ka..” Fana menjitak Dicky yang sedang asik
bernyanyi membuat Dicky berhenti bernyanyi.
“Kaget kodok! Lagi serius juga!” protes Fana.
“Ya kan terusannya emang begitu” Dicky polos.
“Ya iya tapi loe liat suasananya dong! Lagi serius nih!” sewot Fana.
“Iya iya!” Dicky memanyunkan bibirnya.
Mereka pun mendekati pintu utama rumah Chacha, Fana pun mengetuknya.
“Assalamualaikum!” Fana masih sibuk mengetuk pintu.
Pintu rumah Chacha pun terbuka.
“Eh ada non Fana, ada apa ya non?” tanya bi Wati yang tadi membukakan pintu.
“Cari Chacha, ada?” Fana balik bertanya.
“Loh, non Chacha baru saja pergi non, emang gak di kasih tau?” bi Wati kembali bertanya.
“Loh, memang pergi kemana bi?” Dicky kini bertanya.
“Ini Dicky bi” jelas Fana yang mengerti tatapan heran bi Wati pada Dicky.
“Ohh.. katanya sih ke Jepang non, tapi kurang tau juga sih” jelas bi Wati.
“JEPANG??” Fana dan Dicky terkejut menatap bi Wati.
“Haduhh non, den.. bibi kaget, jangan teriak begitu!” bi Wati mengelus-elus dadanya karena terkejut.
“Eh.. e.. maaf bi hehe..” Dicky cengengesan.
“Kira-kira pulangnya kapan ya bi?” tanya Fana.
“Si ibu sama bapak aja gak tau, apalagi bibi non” Fana meletakkan jarinya di dagu.
“Emmm.. ya udah bi, makasih ya, kalo Chacha udah pulang kabarin ya bi’, pinta Fana.
“Iya non, siapp” bi Wati mengangkat tangannya tepat di pelipis alisnya.
“Ya udah kita pulang dulu ya bi” pamit Dicky.
“Iya den, hati-hati ya” pesan bi Wati.
“Assalamualaikum” mereka berdua berjalan melewati halaman.
“Walaikumsalam” sahut bi Wati lalu masuk ke rumah.
Di sisi lain, Chacha kini terduduk di ranjang rumah sakit? Yap, kini Chacha berada di salah satu rumah sakit di Jepang.
“Lagi apa ya mereka? Baru sehari aja udah kangen, maaf ya gak pamit, gue gak mau ada perpisahan” Chacha termenung.
Sesekali ia menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya yang di tekuknya.
“Seharusnya dari awal gue kepikiran sama hal ini, gue bilang sama Dicky, tapi gue terlalu egois Cuma karena gue juga cinta Dicky, maafin gue Fan terlalu lama mikir ini, emang harusnya gue kayak gini dulu, baru bisa mikir, sekarang gue tau jawabannya” gumam hati Chacha.
Ceklekk, pintu kamar rawat rumah sakit terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya masuk.
“Gimana sayang keadaan kamu?” ia berjalan mendekati Chacha.
“Baik mah” jawab Chacha singkat.
“Kamu kenapa sih?” tanya mamanya heran, yap! Mamanya.
“Kepikiran Fana” Chacha hanya menatap keluar jendela ruang rawatnya.
Ya, saat ini ia tengah di rawat di ruamh sakit.
“Sabar ya, tunggu kamu sembuh dulu” ucap mamanya.
“Aku gak mau sembuh, kalo aku sembuh, aku cuma jadi PHO aja mah, PERUSAK HUBUNGAN ORANG!” mamanya tak mengerti dengan perlakuan anaknya.
Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Chacha sendirian, agar Chacha tenang, di ruangan serba putih itu? Dengan berbaukan obat-obatan? Sebenarnya Chacha sudah tidak betah berlama-lama di tempat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Keinginan orang tuanya tak bisa di tolaknya. Chacha memang selalu menuruti keinginan orang tersayangnya itu *boong ahh =p
Sudah lama Chacha pergi, tapi belum juga pulang, bahkan tak ada kabar apapun. Fana dan Dicky mulai khawatir, mereka pun bermaksud untuk berkunjung kembali ke rumah Chacha.
“Ya udah lah ayo, dari pada ada apa-apa sama dia” Dicky menyetujui usulan Fana.
Mereka pun segera menuju rumah Chacha, sesampainya di rumah Chacha keadaannya masih sama seperti terakhir kali mereka datang. Hening. Tetapi mereka tetap berniat masuk, belum Fana mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dan ada mama Chacha disana.
“Eh Fana” sapa mama Chacha tersenyum.
Fana melihat kantung mata wanita itu terlihat hitam dan membengkak, seperti habis menangis berhari-hari. Tetapi ia tak berani bertanya mengapa.
“Ada apa ya Fan? Ini siapa?” tanya mama Chacha yang beralih menatap Dicky.
“Emmm.. ini Dicky tante, kita mau cari Chacha, ada kan?” wanita itu sejenak terdiam, seperti berusaha tegar.
“Tentu ada, ayo masuk dulu” ia mempersilahkan Fana dan Dicky masuk.
Kini mereka semua berada di ruang tamu.
“Duduk dulu, tante mau kasih sesuatu buat kalian terutama kamu, Dicky” mama Chacha pun pergi.
“Gue?” Dicky bingung.
Setelah lama, mama Chacha pun kembali membawa sesuatu di tangannya. Seperti kertas, yap! Memang kertas.
“Ini buat kalian” mama Chacha duduk dan menunjukkan apa yang ada di tangannya.
“Loh, Chachanya mana sih tante?” Dicky tak sabar.
“Ya nanti, ini baca dulu, ini buat Fana, dan ini buat kamu, Dicky” mama Chacha memberi masing-masing kertas.
“Kok gue dapet yang kecil sih? Kayak mau vote KM ajah, tukeran dong Ky!” protes Fana.
“Yeee mana bisa begitu! Udah untung di kasih” Dicky menjauhkan kertas yang ia pegang dari Fana.
“Ishh..” Fana cemberut.
Mama Chacha hanya tersenyum melihatnya, miriss.
Dicky mulai membuka dan membaca isi secarik kertas itu. Dicky nampak terkejut dan sedikit demi sedikit air dari matanya mulai mengalir.
“Mencintai Fana? Apa bisa?” gumamnya dalam hati seraya menatap Fana.
“Loe.. loe kenapa Ky? Kok ngeliatin gue kayak gitu?” Fana heran.
Dicky menghapus air matanya dan mulai menghentikan alirannya.
“Buka dong kertasnya, terus baca isinya” pinta Dicky.
“Hmmm” Fana mulai membaca.
“Cinta Dicky buat kamu, cuma buat kamu, Fana” baca Fana dengan pelan.
“Chacha? Maksudnya apa?” Fana bingung.
“Emang isinya apa?” Dicky penasaran.
“Chacha mana tante?” Fana tak menggubris pertanyaan Dicky.
“Ayo ikut, kita ke tempat Chacha berada sekarang” mama Chacha beranjak.
“Kenapa gak Chacha aja yang kesini tante?” Fana tak mengerti.
“Chacha udah gak bisa kemana-mana, dia gak bisa kesini, gak bisa samperin kamu disini, sekarang dia ada di suatu tempat yang tante yakin kamu pasti tau” jelas mama Chacha tersenyum.
“Aku tau?” Fana menatap Dicky yang menangis.
“Loe kenapa sih Ky? Heran sama loe” Fana masih bingung.
“Ayo” ajak mama Chacha.
Mereka pun pergi bersama. Sesampainya di tempat itu, Fana benar-benar kenal tempat itu.
“Sunset?” Fana heran.
“Kok sunset sih? Ini kan bukit Fan” Dicky menatap Fana.
“Gue sama Chacha sebut tempat ini SUNSET, karena kalo menjelang malem, di atas bukit sana..” Fana menunjuk
ujung bukit.
“Kita bisa liat sunset yang indaaahhh banget” Fana tersenyum.
“Oh iya, Chacha mana tante?” tanya Fana polos.
“Dia ada di atas sana, deket pohon itu” mama Chacha tersenyum.
“Gak ada tante, mana?” Fana memfokuskan pandangannya.
“Ya gak keliatan dong, ayo kesana” mama Chacha mulai berjalan di ikuti Fana dan Dicky.
“Nyusahin aja sih, memangnya di kira gak pegel apa?! Kenapa gak dia aja coba yang nyamperin kesini” keluh Fana.
Mama Chacha hanya tersenyum miris.
“Itu dia, sejak 3 hari lalu disana” ucap mama Chacha setelah sampai di puncak.
“Chacha? Itu.. beneran Chacha? Yang ada disana? Hiks” Fana kini menangis.
“Dicky.. hiks” Fana memeluk Dicky dan terisak di pelukan Dicky.
Tak percaya? Ya, saat ini yang di rasakan Fana hanya rasa tak percaya. Melihat Chacha sebegitu dekatnya, dengan keadaan seperti ini? Fana hanya bisa menangis.
“Ini.. ada Fana sama Dicky sayang.. hiks” mama Chacha berjongkok tak mampu membendung air matanya.
Fana mendekat dan jatuh terduduk di samping mama Chacha.
“Gue gak percaya Cha! Hiks.. gue masih pengen main sama loe, bercanda lagi bareng Dicky, tapi kenyataannya?
Loe udah gak bisa apa-apa lagi! Gue kecewa! Gue kecewa Cha! Hiks..” Dicky berjongkok lalu memeluk Fana.
Mencoba menenangkannya, di usapnya ujung kepala Fana. Semua yang ada disitu menangis pilu.
“Cha, kenapa akhirnya jadi gini? Apa itu semua karena gue? Maafin gue” batin Dicky tertunduk miris yang masih
tetap pada posisinya, berjongkok memeluk Fana yang terduduk.
“Chacha Ky Chacha” rengek Fana di pelukan Dicky.
“Sulit di percaya, orang yang selama ini buat gue tersenyum, bercanda bareng gue, sekarang kayak gini keadaannya? Gak bisa apa-apa? Miris” isakkannya mulai reda.
“Gue juga gak percaya, tapi kalo emang takdir yang berkata harus gini, gue harus percaya” Dicky mencoba tegar.
“Kenangan yang buat gue gak bisa percaya Ky” Fana menenggelamkan wajahnya di dada Dicky.
“Loe harus percaya!” Dicky memegang erat pundak Fana.
“GAK!”
“FANA!” bentak Dicky akhirnya.
“Loe harus percaya kenyataan ini” ucap Dicky pelan.
“Kenyataan kalau.. kalau Chacha udah pergi, dia udah pergi ninggalin kita, Fan” lanjutnya.
“Gue sayang banget sama Chacha, gue sayang sama loe Cha!” ucap Fana kembali.
“Gue juga sama, Gue juga sayang sama Chacha” Dicky kembali memeluk Fana dalam pelukannya.
“Loe cinta Chacha kan Ky?” tanya Fana.
“Loe.. jangan mulai ngaco deh, di saat kayak gini?” Dicky melepas pelukannya.
“Jujur Ky” pinta Fana.
Jujur, saat ini Dicky bingung harus menjawab apa.
“Jangan pernah sakitin hati Fana, dia cinta kamu, sangat sangat mencintai kamu, Dicky” satu kalimat dalam surat tadi terngiang-ngiang di otak Dicky.
“Apa yang harus gue lakuin? Apa Cha?” gumam hati Dicky.
“Tolong Ky, nyatain cinta ke Fana, di depan aku, sebelum terlambat!” dan satu lagi kalimat dalam surat itu berhasil mengganggu otak Dicky.
“Emmm gue.. gue cinta sama loe.. jangan nangis lagi ya” ucap Dicky akhirnya dan menghapus air mata Fana.
“Serius?” Fana menatap Dicky lekat.
“Ya, gue cuma cinta sama loe” Dicky berdiri di ikuti Fana.
“Loe mau kan jadi pendamping hidup gue?” tanya Dicky.
Fana mengangguk dan tersenyum.
“Mau Ky” Fana
“Gue udah ngelakuin apa yang loe mau Cha” Dicky memeluk Fana. Rasa tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
“Gue janji bakal jaga Fana sesuai pesan loe, orang yang gue cinta memang udah mati, but My Love Never
Die Cha, mungkin novel itu bakal gue kasih ke Fana, biar loe gak terlupakan di hati kita, semoga loe lebih bahagia disana, gue akan coba mencintai Fana, tapi gue gak akan hapus rasa cinta gue ke loe, gue akan tetep cinta sama loe, ada dua hati disini, Cha” batin Dicky yang masih saja memeluk Fana.
Dicky pun mengajak Fana untuk pulang.
“Cerita ini akan jadi sejarah Cha, tak terlupakan” Dicky.
“Novel itu emang udah takdir rancang buat di simpan sama Fana, makasih buat kamu Ky yang udah mencoba ngejalanin amanat dari aku, aku yakin kamu pasti berhasil, menicintai Fana Ky =)” Chacha.
Cerpen Karangan: Annisa Nur Fitriani
Facebook: Andicksa Karisma
Nama : Annisa Nur Fitriani (Icha)
“Anak baru?” Chacha menoleh Fana.
“Iya, cowok Cha” Chacha hanya menggeleng kepala.
“Eh.. udah masuk Cha, yuk” ajak Fana.
Mereka pun masuk kelas. Di tengah pelajaran, guru BP masuk dan memperkenalkan murid baru.
“Oh.. Dicky toh” celetuk Fana.
“Kenal?” Fana menggeleng.
“Hehe.. enggak” Fana hanya cengar-cengir.
Jam istirahat, Chacha di kantin menunggu Fana yang ke toilet. Tak lama, Fana datang bersama anak baru itu.
“Dicky?” pekik Chacha.
“Hai Cha, nih katanya Dicky mau gabung sama kita” jelas Fana.
“Loe rayu ya?” Fana memanyunkan bibirnya.
Dicky tertawa mendengar pertanyaan Chacha.
“Haha.. gak kok, gue tadi gak ada temen, kebetulan Fana lewat, ya udah ikut dia aja” terang Dicky.
“Tuh! Dengerin!” Fana masih memanyunkan bibirnya.
“Iye iyeh, gue kasih sambel tuh mulut” Chacha siap dengan sesendok sambal.
Fana pun segera menutup mulutnya, Dicky hanya cengengesan melihat Chacha dan Fana.
“Ya udah, gue pesen baksonya dulu” Chacha dan Fana hanya mengangguk.
Pulang sekolah.
“Eh.. rumah loe dimana Fan?” tanya Dicky.
“Di komplek blok C” jawab Fana.
“Bareng yuk, gue juga disana” ajak Dicky.
“Yah.. gue mau ke rumah Chacha, mau ngerjain tugas dari pak Rangga tadi” jelas Fana.
“Oh iya ya, hampir lupa gue, untung loe ngingetin, ya udah gue ikut ya?” Fana mengangguk.
“Fannn.. ayo buru” Chacha teriak dari dalam mobil.
“Si Dicky mau ikut nih” ucap Fana.
“Ya udah ayo” Dicky menggeleng.
“Gue bawa mobil sendiri ya, tungguin gue, gue ikutin dari belakang” Chacha mengangguk.
Dicky pun segera menuju mobilnya dan mulai mengikuti dari belakang. Sesampainya di rumah Chacha, mereka bertiga segera mengerjakan tugasnya dengan serius. Setelah selesai, mereka meluangkan waktu untuk berbincang-bincang, bertukar cerita begitupun dengan seriusnya Chacha dan Fana mendengarkan cerita Dicky. Setelah puas, Fana dan Dicky pun pulang bersama. Dicky yang meminta Fana untuk pulang bersamanya.
Esoknya, Chacha yang sudah menunggu taxi sejak tadi belum beranjak dari tempatnya. Padahal sudah hampir siang, tiba-tiba mobil sport hitam berhenti didepannya. Kaca mobil terbuka, Chacha membungkuk dan terlihat sosok pria manis dalam mobil itu.
“Bareng yuk, nanti telat, gue aja takut telat, gimana loe?” Chacha mengangguk dan akhirnya masuk ke mobil.
Sesampainya di sekolah, mereka pun segera berlari dari parkiran menuju kelas. Saat tiba di kelas mereka langsung duduk di ikuti tawa mereka.
“Hahaha..” tawa mereka geli.
“Eh.. loe siang banget sih datengnya!” tegur Fana.
“Haha.. itu juga kalo Chacha gak ketemu gue.. dia pasti dateng jam 10! Haha..” Dicky masih tertawa.
“Udah ah.. udah bel tau, ketawanya lanjutin entar aja haha…” Chacha sibuk mengambil buku dari dalam tasnya.
Di kantin, Fana dan Dicky sudah melahap habis makanannya. Sedangkan Chacha sibuk dengan I-Phonenya, sesekali melirik pada dua sahabatnya itu.
“Pengen ke toko buku” celetuk Fana.
“Ya udah nanti sama gue, gue juga mau nyari novel, loe ikut Cha?” Dicky melirik Chacha.
Ia menggeleng pelan lalu meletakkan I-Phonenya di meja dan menopang dagunya di tangan.
“Gue ada perlu sama bonyok, Ky.. gue nitip novel ya?” Dicky mengacungkan jempolnya.
“Pulang sekolah langsung?” tanya Dicky pada Fana.
“Iya, biar gak kesorean” jelas Fana.
“Siip” Fana memperhatikan setiap lekuk wajah Dicky yang sedang berbicara dengan Chacha.
“Rasa gue beda, cuma loe yang buat gue gini” batin Fana menatap Dicky.
“Ekhem.. ada yang falling in love nih..” Chacha meledek dan membuyarkan lamunan Fana. Ia sangat tau bahwa sedari tadi Fana sedang memperhatikan Dicky.
“Sama siapa?” tanya Dicky yang tak sadar sedari tadi di perhatikan Fana.
“Udah deh Cha, gak usah ngeledekin gue” elak Fana.
“Haha.. gak mau ngaku! Yang satu juga.. lola! Haha..” Chacha tertawa lepas.
Wajah Fana sedikit memerah, sedangkan Dicky yang belum mengerti masih bingung dengan apa yang di bicarakan Chacha dan Fana. Chacha masih saja tertawa lepas. Dicky hanya mengkerutkan dahinya, sedangkan Fana masih membungkam menahan malu.
“Jangan sampai.. nanti loe lebih muda dari pada gue” Dicky menyenggol Chacha, Fana menatap Dicky.
“Haha.. heh, tanpa gue harus ketawa juga pasti akhirnya ya tetep mudaan gue, plus kecenya haha..” Chacha masih saja tertawa bebas.
“Yee.. ya udah kalo kece, gue imutnya” Dicky menegakkan tubuhnya.
Chacha tertawa melihatnya.
“Kalo loe?” Fana terkejut dari lamunannya.
Fana yang tadinya menunduk sekarang menatap Dicky heran.
“Terserah loe pada aja” Fana kini angkat bicara.
Dicky dan Chacha kini sedang berpikir dengan Chacha yang mengetuk-ngetukkan jari pada dagunya dan Dicky menopang dagu pada tangannya. Tak lama, serentak mereka menjentikkan jarinya, fana menatap mereka bergantian.
“Mrs. Loving!” Dicky dan Chacha menunjuk Fana.
Fana terbelalak mendengarnya, mereka menurunkan telunjuknya yang tadi menunjuk Fana dan tertawa.
“Apa-apaan sih kalian?! Udah deh!” Fana menopang dagu pada tangannya.
“Haha.. udahlah Fan, terima aja haha..” Chacha terlihat senang karena hari ini berhasil menjaili Fana.
“Udah masuk tuh! Ayo!” Fana beranjak dari tempatnya.
“Woles mba bro” Dicky tertawa di ikuti Chacha.
Fana memanyunkan bibirnya sepanjang jalan menuju kelas.
“Katanya terserah kita, tapinya ngambek” ledek Chacha.
“Sssttt.. udah diem!” Fana ketus.
“Jiahh.. dia mayah Ky” Chacha melirik Dicky.
Dicky menatap balik Chacha dengan wajah meledek Fana, Chacha terkekeh kecil. Fana hanya memalingkan wajahnya dari mereka berdua.
Pulang sekolah, seperti rencananya tadi. Fana dan Dicky pun pergi ke toko buku. Sesampainya disana, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Sekian lama, Fana mulai memandang Dicky dan sesekali tersenyum sendiri. Sedangkan Dicky, ia sibuk mencari novel baru dan memilih-milih novel pesanan Chacha.
“Mana ya yang bagus? Entar dia gak suka lagih” gumam Dicky.
Senyumnya sedikit mengembang saat melihat cover sebuah novel.
“Pas” serunya.
“Gimana? Udah milih?” tanya Fana yang baru saja menghampiri Dicky.
Dicky mengangguk seraya tersenyum, mereka pun membayar belanjaan mereka dan segera pulang. Di rumah, Dicky terus-menerus tersenyum memandang cover novel pesanan Chacha.
“Gue banget!” sesekali ia bergumam dan tersenyum.
Esoknya di kantin, setelah makan seperti biasa mereka selalu berbincang-bincang.
“Nih Cha novelnya” Dicky menyodorkan novel.
Chacha pun tersenyum membaca judul di covernya, Fana melihatnya heran.
“Ada apa sih sama novel itu?” Chacha dan Dicky melirik Fana.
“Kemaren loe senyam-senyum sendiri liat novel itu” Fana memandang Dicky.
“Sekarang loe” balik memandang Chacha.
“Sebenernya apa sih judul tuh novel?” Chacha melihatkan cover depan novel itu.
“My.. love.. never die” Fana mulai tersenyum.
“Siapa yang gak bakal senyum coba? Sampai orang gila pun pasti senyum” celetuk Dicky.
“Ya iya lah!” Dicky hanya menutup telinganya mendengar bentakkan dua cewek ini.
“Biasa aja sih bu!” protes Dicky seraya melepaskan tangannya dari telinganya.
“Huhh dasar!” Fana meledek.
“Kalo loe udah selesai baca gue pinjem ya” Chacha mengangguk.
“Ini berapa Ky?” Chacha menunjukkan novelnya.
“Udah buat loe aja, anggep aja kenang-kenangan dari gue, loe simpen tuh” Dicky meminum esnya.
“Okeh thanks ya Ky, tenang bakal gue simpen, kalo gue pergi, entar gue simpen di tempat yang gue percaya haha..” Chacha tertawa karena perkataannya sendiri.
“Ya loe bawa lah, ngapain di simpen” ucap Fana.
“Ya gak bisa lah Fan haha, rada-rada loe” Fana semakin bingung.
“Emang loe mau pergi kemana sih?” Chacha berhenti tertawa.
“Gak tau deh, ikut takdir aja” hening.
“Jalan ketaman yuk nanti!” ajak Dicky.
“Gue gak bisa, gue mau ke Jakarta sampe lusa” jelas Fana.
“Besok gak sekolah dong!” seru Chacha.
“Yapp” seru Fana mantab.
“Ya udah kita aja Cha” semua menoleh Dicky.
“Ya udah” Chacha mengiyakan.
Sorenya, mereka berdua jalan-jalan di sekitar taman. Setelah itu, mereka pun duduk di bangku taman.
“My love never die” Chacha menoleh pada Dicky.
“For you” Dicky menatap Chacha lekat.
“Loe kenapa sih Ky? Mulai lebay deh” Chacha kembali menatap ke depan.
“Aku serius” Dicky juga menatap ke depan, Chacha pun menoleh.
“Aku?” batin Chacha.
“Jangan ngaco deh ngomongnya” Chacha heran.
“Apa aku gak boleh cinta sama kamu?” Chacha salting.
“Ya.. ya boleh, tapi.. tapi maksudnya apa?” Dicky kini menoleh.
“Aku mencintaimu” Dicky pun berlalu meninggalkan Chacha yang masih terduduk di bangku taman sendiri.
Chacha termenung sejenak dan akhirnya berlalu. Sejak kejadian kemarin sore, Chacha dan Dicky lebih sering bungkam dari pada bergurau.
“Emm.. apa enak kayak gini terus?” Dicky mulai membuka mulut.
“Ya enggak sih, Fana juga nanti curiga” sahut Chacha.
“Ya udah bersikap normal aja, kayak biasa” Dicky berusul.
Chacha hanya mengangguk setuju, mereka pun pergi ke kantin.
“Kangen sama Fana” celetuk Fana.
“Baru juga sehari, lusa kan dia udah masuk lagi” Dicky hanya menggelengkan kepala.
“Hehehe..” Chacha hanya cengar-cengir.
—
“Minggu pagi, cerah” gumam Chacha yang menatap ke luar jendela kamarnya.
Sedikit senyum, namun gelisah. Terdengar ada yang mengetuk pintu kamar, Chacha pun membukanya.
“Ada Fana di depan” ucap wanita paruh baya ini.
Chacha mengangguk, senyumnya seketika mengembang. Chacha segera menuju ruang tamu, di lihatnya sofa di ruang tamu, senyumnya semakin mengembang.
“Fanaaa..” teriaknya.
Fana yang sedang minum seketika menatap Chacha yang baru muncul, Chacha duduk di samping Fana.
“Kangen tau..” keluh Chacha manja seraya memanyunkan bibirnya.
“Lebay loe!” Chacha hanya cengengesan.
“Kan sepi tau” ucap Chacha.
“Iya aja deh.. eh, gue mau curhat nih” Fana sedikit mendekat.
“Tentang apaan?” tanya Chacha merespon.
“Perasaan gue” Fana tersenyum.
“Perasaan apaan?” Chacha mengambil segelas jus di meja dan meneguknya.
“Ih Chacha, gak asik deh, ya perasaan gue ke Dicky lah.. gue cinta sama dia” frontal Fana santai.
“Uhukk..” Chacha tersedak minumannya.
“Ciyuss..” mata Chacha menyelidik.
Fana mengangguk mantap, ia pun menatap Chacha yang menjadi murung.
“Gue bantu loe deh ya?” tawar Chacha.
“Thanks sweet” senyum Fana mengembang.
Chacha hanya tersenyum miris menatap Fana. Setelah lama ngobrol, Fana pun pulang dengan sejuta senyuman.
Di sekolah hari ini, hanya Fana yang terlihat ceria, sedangkan Chacha dan Dicky hanya murung sedari tadi dengan tatapan kosong. Chacha menatap sekeliling taman yang ada disampingnya dan Dicky menatap semua bangku kantin seraya mengaduk-aduk minumannya. Chacha sedikit-sedikit merespon gurauan Fana, ia masih memikirkan tentang Dicky dan Fana. Bagaimana? sesekali pikirannya bertanya. Sedangkan Dicky, entah apa yang ia pikirkan, ia seperti merasa bosan.
“Loe berdua kenapa sih? Dari tadi diem aja, ngelamun mulu” Fana merasa heran.
Chacha dan Dicky pun menatap Fana.
“Gue bosen!” Dicky datar dan membiarkan minumannya lalu pergi.
Fana dan Chacha menatap kepergian Dicky, tetapi Chacha kemmbali menatap taman.
“Loe ada masalah? Apa loe keberatan bantuin gue?” tatapan Fana menyelidik.
Chacha menegakkan tubuhnya menatap Fana setelah itu menunduk.
“Kalo gitu harusnya gue nyesel dong tawarin bantuan, malah harusnya tawaran itu gak ada” jelas Chacha.
“Terus loe kenapa?” tanya Fana.
“Taulah.. kayak ada yang ngeganjel di pikiran, gue duluan ya” Chacha pun pergi.
Saat menuju kelas, ada yang menelpon Chacha. Chacha mengangkatnya yang ternyata dari mamanya, setelah menutup telepon ia langsung berlari kencang entah kemana.
“Dari mana loe?” tanya Dicky pada Chacha yang baru masuk kelas.
“Tau nih, masa gue duluan yang sampe, kan tadi yang pergi loe duluan” sahut Fana.
Tetapi Chacha tak menggubrisnya, ia malah pergi kembali setelah mengambil tasnya.
“Dia kenapa sih? Mau kemana lagi dia?” Fana heran.
Dicky hanya mengangkat kedua bahunya.
Dicky dan Fana memutuskan akan ke rumah Chacha sepulang sekolah. Saat di rumah Chacha, mereka heran karena rumahnya sepi.
“Kok sepi sih?” Fana heran.
“Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga, hai begitulah ka..” Fana menjitak Dicky yang sedang asik
bernyanyi membuat Dicky berhenti bernyanyi.
“Kaget kodok! Lagi serius juga!” protes Fana.
“Ya kan terusannya emang begitu” Dicky polos.
“Ya iya tapi loe liat suasananya dong! Lagi serius nih!” sewot Fana.
“Iya iya!” Dicky memanyunkan bibirnya.
Mereka pun mendekati pintu utama rumah Chacha, Fana pun mengetuknya.
“Assalamualaikum!” Fana masih sibuk mengetuk pintu.
Pintu rumah Chacha pun terbuka.
“Eh ada non Fana, ada apa ya non?” tanya bi Wati yang tadi membukakan pintu.
“Cari Chacha, ada?” Fana balik bertanya.
“Loh, non Chacha baru saja pergi non, emang gak di kasih tau?” bi Wati kembali bertanya.
“Loh, memang pergi kemana bi?” Dicky kini bertanya.
“Ini Dicky bi” jelas Fana yang mengerti tatapan heran bi Wati pada Dicky.
“Ohh.. katanya sih ke Jepang non, tapi kurang tau juga sih” jelas bi Wati.
“JEPANG??” Fana dan Dicky terkejut menatap bi Wati.
“Haduhh non, den.. bibi kaget, jangan teriak begitu!” bi Wati mengelus-elus dadanya karena terkejut.
“Eh.. e.. maaf bi hehe..” Dicky cengengesan.
“Kira-kira pulangnya kapan ya bi?” tanya Fana.
“Si ibu sama bapak aja gak tau, apalagi bibi non” Fana meletakkan jarinya di dagu.
“Emmm.. ya udah bi, makasih ya, kalo Chacha udah pulang kabarin ya bi’, pinta Fana.
“Iya non, siapp” bi Wati mengangkat tangannya tepat di pelipis alisnya.
“Ya udah kita pulang dulu ya bi” pamit Dicky.
“Iya den, hati-hati ya” pesan bi Wati.
“Assalamualaikum” mereka berdua berjalan melewati halaman.
“Walaikumsalam” sahut bi Wati lalu masuk ke rumah.
Di sisi lain, Chacha kini terduduk di ranjang rumah sakit? Yap, kini Chacha berada di salah satu rumah sakit di Jepang.
“Lagi apa ya mereka? Baru sehari aja udah kangen, maaf ya gak pamit, gue gak mau ada perpisahan” Chacha termenung.
Sesekali ia menenggelamkan wajahnya di kedua kakinya yang di tekuknya.
“Seharusnya dari awal gue kepikiran sama hal ini, gue bilang sama Dicky, tapi gue terlalu egois Cuma karena gue juga cinta Dicky, maafin gue Fan terlalu lama mikir ini, emang harusnya gue kayak gini dulu, baru bisa mikir, sekarang gue tau jawabannya” gumam hati Chacha.
Ceklekk, pintu kamar rawat rumah sakit terbuka, terlihat seorang wanita paruh baya masuk.
“Gimana sayang keadaan kamu?” ia berjalan mendekati Chacha.
“Baik mah” jawab Chacha singkat.
“Kamu kenapa sih?” tanya mamanya heran, yap! Mamanya.
“Kepikiran Fana” Chacha hanya menatap keluar jendela ruang rawatnya.
Ya, saat ini ia tengah di rawat di ruamh sakit.
“Sabar ya, tunggu kamu sembuh dulu” ucap mamanya.
“Aku gak mau sembuh, kalo aku sembuh, aku cuma jadi PHO aja mah, PERUSAK HUBUNGAN ORANG!” mamanya tak mengerti dengan perlakuan anaknya.
Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi meninggalkan Chacha sendirian, agar Chacha tenang, di ruangan serba putih itu? Dengan berbaukan obat-obatan? Sebenarnya Chacha sudah tidak betah berlama-lama di tempat seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Keinginan orang tuanya tak bisa di tolaknya. Chacha memang selalu menuruti keinginan orang tersayangnya itu *boong ahh =p
Sudah lama Chacha pergi, tapi belum juga pulang, bahkan tak ada kabar apapun. Fana dan Dicky mulai khawatir, mereka pun bermaksud untuk berkunjung kembali ke rumah Chacha.
“Ya udah lah ayo, dari pada ada apa-apa sama dia” Dicky menyetujui usulan Fana.
Mereka pun segera menuju rumah Chacha, sesampainya di rumah Chacha keadaannya masih sama seperti terakhir kali mereka datang. Hening. Tetapi mereka tetap berniat masuk, belum Fana mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dan ada mama Chacha disana.
“Eh Fana” sapa mama Chacha tersenyum.
Fana melihat kantung mata wanita itu terlihat hitam dan membengkak, seperti habis menangis berhari-hari. Tetapi ia tak berani bertanya mengapa.
“Ada apa ya Fan? Ini siapa?” tanya mama Chacha yang beralih menatap Dicky.
“Emmm.. ini Dicky tante, kita mau cari Chacha, ada kan?” wanita itu sejenak terdiam, seperti berusaha tegar.
“Tentu ada, ayo masuk dulu” ia mempersilahkan Fana dan Dicky masuk.
Kini mereka semua berada di ruang tamu.
“Duduk dulu, tante mau kasih sesuatu buat kalian terutama kamu, Dicky” mama Chacha pun pergi.
“Gue?” Dicky bingung.
Setelah lama, mama Chacha pun kembali membawa sesuatu di tangannya. Seperti kertas, yap! Memang kertas.
“Ini buat kalian” mama Chacha duduk dan menunjukkan apa yang ada di tangannya.
“Loh, Chachanya mana sih tante?” Dicky tak sabar.
“Ya nanti, ini baca dulu, ini buat Fana, dan ini buat kamu, Dicky” mama Chacha memberi masing-masing kertas.
“Kok gue dapet yang kecil sih? Kayak mau vote KM ajah, tukeran dong Ky!” protes Fana.
“Yeee mana bisa begitu! Udah untung di kasih” Dicky menjauhkan kertas yang ia pegang dari Fana.
“Ishh..” Fana cemberut.
Mama Chacha hanya tersenyum melihatnya, miriss.
Dicky mulai membuka dan membaca isi secarik kertas itu. Dicky nampak terkejut dan sedikit demi sedikit air dari matanya mulai mengalir.
“Mencintai Fana? Apa bisa?” gumamnya dalam hati seraya menatap Fana.
“Loe.. loe kenapa Ky? Kok ngeliatin gue kayak gitu?” Fana heran.
Dicky menghapus air matanya dan mulai menghentikan alirannya.
“Buka dong kertasnya, terus baca isinya” pinta Dicky.
“Hmmm” Fana mulai membaca.
“Cinta Dicky buat kamu, cuma buat kamu, Fana” baca Fana dengan pelan.
“Chacha? Maksudnya apa?” Fana bingung.
“Emang isinya apa?” Dicky penasaran.
“Chacha mana tante?” Fana tak menggubris pertanyaan Dicky.
“Ayo ikut, kita ke tempat Chacha berada sekarang” mama Chacha beranjak.
“Kenapa gak Chacha aja yang kesini tante?” Fana tak mengerti.
“Chacha udah gak bisa kemana-mana, dia gak bisa kesini, gak bisa samperin kamu disini, sekarang dia ada di suatu tempat yang tante yakin kamu pasti tau” jelas mama Chacha tersenyum.
“Aku tau?” Fana menatap Dicky yang menangis.
“Loe kenapa sih Ky? Heran sama loe” Fana masih bingung.
“Ayo” ajak mama Chacha.
Mereka pun pergi bersama. Sesampainya di tempat itu, Fana benar-benar kenal tempat itu.
“Sunset?” Fana heran.
“Kok sunset sih? Ini kan bukit Fan” Dicky menatap Fana.
“Gue sama Chacha sebut tempat ini SUNSET, karena kalo menjelang malem, di atas bukit sana..” Fana menunjuk
ujung bukit.
“Kita bisa liat sunset yang indaaahhh banget” Fana tersenyum.
“Oh iya, Chacha mana tante?” tanya Fana polos.
“Dia ada di atas sana, deket pohon itu” mama Chacha tersenyum.
“Gak ada tante, mana?” Fana memfokuskan pandangannya.
“Ya gak keliatan dong, ayo kesana” mama Chacha mulai berjalan di ikuti Fana dan Dicky.
“Nyusahin aja sih, memangnya di kira gak pegel apa?! Kenapa gak dia aja coba yang nyamperin kesini” keluh Fana.
Mama Chacha hanya tersenyum miris.
“Itu dia, sejak 3 hari lalu disana” ucap mama Chacha setelah sampai di puncak.
“Chacha? Itu.. beneran Chacha? Yang ada disana? Hiks” Fana kini menangis.
“Dicky.. hiks” Fana memeluk Dicky dan terisak di pelukan Dicky.
Tak percaya? Ya, saat ini yang di rasakan Fana hanya rasa tak percaya. Melihat Chacha sebegitu dekatnya, dengan keadaan seperti ini? Fana hanya bisa menangis.
“Ini.. ada Fana sama Dicky sayang.. hiks” mama Chacha berjongkok tak mampu membendung air matanya.
Fana mendekat dan jatuh terduduk di samping mama Chacha.
“Gue gak percaya Cha! Hiks.. gue masih pengen main sama loe, bercanda lagi bareng Dicky, tapi kenyataannya?
Loe udah gak bisa apa-apa lagi! Gue kecewa! Gue kecewa Cha! Hiks..” Dicky berjongkok lalu memeluk Fana.
Mencoba menenangkannya, di usapnya ujung kepala Fana. Semua yang ada disitu menangis pilu.
“Cha, kenapa akhirnya jadi gini? Apa itu semua karena gue? Maafin gue” batin Dicky tertunduk miris yang masih
tetap pada posisinya, berjongkok memeluk Fana yang terduduk.
“Chacha Ky Chacha” rengek Fana di pelukan Dicky.
“Sulit di percaya, orang yang selama ini buat gue tersenyum, bercanda bareng gue, sekarang kayak gini keadaannya? Gak bisa apa-apa? Miris” isakkannya mulai reda.
“Gue juga gak percaya, tapi kalo emang takdir yang berkata harus gini, gue harus percaya” Dicky mencoba tegar.
“Kenangan yang buat gue gak bisa percaya Ky” Fana menenggelamkan wajahnya di dada Dicky.
“Loe harus percaya!” Dicky memegang erat pundak Fana.
“GAK!”
“FANA!” bentak Dicky akhirnya.
“Loe harus percaya kenyataan ini” ucap Dicky pelan.
“Kenyataan kalau.. kalau Chacha udah pergi, dia udah pergi ninggalin kita, Fan” lanjutnya.
“Gue sayang banget sama Chacha, gue sayang sama loe Cha!” ucap Fana kembali.
“Gue juga sama, Gue juga sayang sama Chacha” Dicky kembali memeluk Fana dalam pelukannya.
“Loe cinta Chacha kan Ky?” tanya Fana.
“Loe.. jangan mulai ngaco deh, di saat kayak gini?” Dicky melepas pelukannya.
“Jujur Ky” pinta Fana.
Jujur, saat ini Dicky bingung harus menjawab apa.
“Jangan pernah sakitin hati Fana, dia cinta kamu, sangat sangat mencintai kamu, Dicky” satu kalimat dalam surat tadi terngiang-ngiang di otak Dicky.
“Apa yang harus gue lakuin? Apa Cha?” gumam hati Dicky.
“Tolong Ky, nyatain cinta ke Fana, di depan aku, sebelum terlambat!” dan satu lagi kalimat dalam surat itu berhasil mengganggu otak Dicky.
“Emmm gue.. gue cinta sama loe.. jangan nangis lagi ya” ucap Dicky akhirnya dan menghapus air mata Fana.
“Serius?” Fana menatap Dicky lekat.
“Ya, gue cuma cinta sama loe” Dicky berdiri di ikuti Fana.
“Loe mau kan jadi pendamping hidup gue?” tanya Dicky.
Fana mengangguk dan tersenyum.
“Mau Ky” Fana
“Gue udah ngelakuin apa yang loe mau Cha” Dicky memeluk Fana. Rasa tak ingin kehilangan untuk kedua kalinya.
“Gue janji bakal jaga Fana sesuai pesan loe, orang yang gue cinta memang udah mati, but My Love Never
Die Cha, mungkin novel itu bakal gue kasih ke Fana, biar loe gak terlupakan di hati kita, semoga loe lebih bahagia disana, gue akan coba mencintai Fana, tapi gue gak akan hapus rasa cinta gue ke loe, gue akan tetep cinta sama loe, ada dua hati disini, Cha” batin Dicky yang masih saja memeluk Fana.
Dicky pun mengajak Fana untuk pulang.
“Cerita ini akan jadi sejarah Cha, tak terlupakan” Dicky.
“Novel itu emang udah takdir rancang buat di simpan sama Fana, makasih buat kamu Ky yang udah mencoba ngejalanin amanat dari aku, aku yakin kamu pasti berhasil, menicintai Fana Ky =)” Chacha.
Cerpen Karangan: Annisa Nur Fitriani
Facebook: Andicksa Karisma
Nama : Annisa Nur Fitriani (Icha)