Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) telah usai. Putri kini telah
beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia sudah mempunyai banyak teman
baru disana. Kini dia mempunyai teman akrab di kelasnya yaitu Ais, Erna,
Ani, Indi, Ari dan Fela. Mereka sering bermain bersama saat jam
istirahat tiba. Awalnya hanya teman ngobrol biasa. Tetapi, mungkin
karena sering main bersama mereka semua seperti membentuk gank. Tetapi
mereka semua juga akrab dengan teman-teman sekelas yang lainnya. Hanya
mereka bertujuh lebih sering ngumpul bareng saat jam istirahat. Setelah
sepulang sekolah mereka sering main ke rumah masing-masing bergantian
sekedar dolan ingin tau tempat tinggalnya.
Suatu hari saat jam pelajaran kosong, suasana ruangan sangat ramai.
Namun entah mengapa Putri duduk terdiam di bangkunya. Sedangkan
teman-teman lainnya pada asyik ngobrol-ngobrol dengan serunya menikmati
jam pelajaran yang kosong itu. Lamunannya buyar saat seorang teman
menyapanya.
“Put, lagi kenapa kamu?” tanya Erna.
“Eh, eng.. aku nggak apa-apa kok cuma lagi agak ngantuk aja.” jawab Putri yang sedikit kaget.
“Kenapa, semalem abis begadang?” tanya Erna lagi.
“Ya enggak juga sih.” jawab Putri singkat.
“Oh, ya udah kalau begitu tidur aja sebentar lagian jam pelajaran lagi kosong.” saran Erna.
“Iya oke deh.” jawab Putri.
Lalu Erna pun meninggalkan Putri duduk terdiam di bangkunya kembali
ngobrol-ngobrol dengan temannya. Sebenarnya Putri lagi merasa jenuh
saja. Dia ingin ada yang antar jemput sekolahnya. Selama ini dia
berangkat sekolah diantar ayahnya sekalian berangkat kerja. Pulangnya
dia harus naik angkutan umum sendiri. Apa lagi dari sekolahnya harus
naik angkutan umum tiga kali untuk sampai ke rumahnya. Dan tak jarang
dia pun sering pulang telat.
Hari demi hari dia tetap menjalani sekolahnya seperti biasa. Dan di
suatu hari waktu sepulang sekolah ada perasaan berbeda di hatinya.
Sedang jenuh-jenuhnya karena sudah lama menunggu angkutan umum yang
terakhir untuk sampai ke rumahnya. Putri menggerutu di dalam hatinya,
“Mana sih angkutannya nggak lewal-lewat mana perutku udah laper banget
lagi.” Dia memang sudah lama menunggu angkutan umum jurusannya sekitar
setengah jam yang lalu.
Tak lama kemudian angkutan umum yang ditunggu-tunggu datang juga.
Segera dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi. Angkutan tersebut
pun berhenti di depannya. Dia segera naik ke dalam dan duduk di dekat
pintu. Tak sengaja Putri melihat sorot mata bening di sebelahnya.
Seorang cowok tampan tinggi putih seperti keturunan cina karena matanya
yang sipit. Sejenak jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap
sorot mata bening itu. Seakan merasakan ada sebuah benih cinta yang
tumbuh di dalam hatinya. Ya, cinta pada pandangan pertama.
Sejenak Putri dan mata bening itu saling bertatapan namun Putri
segera mengalihkan pandangannya. Di dalam hatinya dia berkata, “Ganteng
banget cowok ini. Mimpi apa aku semalem bisa ketemu cowok ganteng kaya
gini.”
Sesampai di rumah, Putri masih terbayang-bayang wajah cowok tampan
itu. Di kamarnya dia senyum-senyum sendiri membayangkan cowok itu. Dia
berharap semoga setiap sepulang sekolah bisa seangkutan bareng cowok
itu. Semenjak itulah rasa bosan yang menyelimuti hati Putri hilang
begitu saja. Malah dia nampak semangat berangkat sekolah dan pulang naik
angkutan umum sangat ditunggu-tunggu. Tak lupa Putri menceritakan
pertemuannya dengan seorang cowok tampan itu ke teman akrabnya yang
bernama Erna.
Waktu yang dinanti-nanti pun tiba. Bel sekolah berbunyi menandakan
waktu belajar mengajar telah usai. Semua siswa berbondong-bondong keluar
dari sekolahan. Putri nampak semangat untuk cepat-cepat pulang ke
rumah. Ada harapan di dalam wajahnya. Ya, di dalam hatinya berharap
semoga nanti bisa bertemu cowok tampan yang kemarin. Dari kejauhan
terlihat angkutan yang sedang ditunggunya melaju. Putri terlihat gelisah
dan jantungnya pun berdebar kencang. Harapan untuk bertemu dengan cowok
tampan itu sangat besar. Dilambaikan tangannya ke arah angkutan tadi
dan Putri pun bergegas masuk ke dalam.
Terlihat sepasang mata bening
sedang duduk di pojok belakang asyik bercakap-cakap dengan temannya.
Putri menatap sebentar dan ternyata sepasang mata bening itu adalah
cowok tampan kemarin. Tapi Putri belum yakin yang barusan dilihatnya.
Kemudian Putri menatap kembali cowok tadi. Ternyata memang benar cowok
itu adalah cowok tampan yang kemarin. Hatinya seolah berbunga-bunga bisa
bertemu kembali cowok tampan itu.
Keesokan harinya Putri menceritakan kembali pertemuannya dengan teman akrabnya yaitu Erna. Setibanya di sekolah memanggil Erna.
“Er, sini sebentar.” ajak Putri.
Kemudian diraih tangan Erna menuju ke samping kelasnya.
“Ada apa sih Put?” tanya Erna.
Tidak biasanya Putri bersikap seperti itu.
“Tau nggak Er, kemaren aku seangkot lagi sama cowok ganteng itu.
Pokoknya aku seneng banget.” celoteh Putri dengan senyum-senyum
centilnya. Putri nampak sangat gembira.
“Kaya apa sih cowok itu aku jadi penasaran.” Erna penasaran.
“Pokoknya ganteng banget deh.” jawabnya meyakinkan.
Bel masuk telah berbunyi, waktu belajar mengajar segera dimulai.
Wajah Putri nampak berseri-seri masih terbayang cowok tampan pujaannya.
Terkadang sering tidak fokus dalam pelajarannya.
Sekarang hampir setiap sepulang sekolah Putri bisa seangkot bareng
cowok tampan pujaannya. Ingin rasanya bisa berkenalan dan tahu namanya.
Kebetulan Putri seangkot dengan cowok pujaannya dan lagi memakai baju
identitasnya. Ternyata dia bersekolah di sebuah STM terkenal di kotanya.
Di bajunya terpasang nama lengkapnya. Putri colong-colongan menyelidik
tulisan nama lengkap di bajunya.
Dibacanya tulisan di bajunya dan
ternyata dia bernama NARWOTO.
“Ganteng banget sih kamu… apa lagi kalau lagi senyum. Idih manisnya…” Putri berkata dalam hatinya.
Di sekolah Putri menceritakan lagi pertemuannya dengan cowok pujaannya.
“Er, kemaren aku ketemu lagi sama cowok itu. Sekarang aku udah tau namanya.” cerita Putri.
“Sapa namanya?” Erna penasaran.
“Namanya NARWOTO.” jawab Putri.
“NARWOTO?!” Erna nampak kaget dan tak percaya dengan nama itu. Mungkin
karena namanya terlalu tua untuk anak muda jaman sekarang.
“Siapa Put?” tiba-tiba Esti yang sedari tadi di sebelahnya mendengarkan
percakapan Putri dan Erna melontarkan pertanyaan. Dari raut wajahnya
sepertinya Esti mengenali nama yang barusan Putri sebutkan.
“Narwoto. Emangnya kenapa Es?” tanya Putri.
“Narwoto yang anaknya putih, agak kurus terus matanya sipit bukan?” tanya Esti menyelidik.
“Iya Es, memangnya kamu kenal sama dia?” Putri jadi penasaran.
“Ya iya lah dia temen SMP aku tau.” jawab Esti.
“Terus dia anak mana sih? Dia ganteng banget ya Es..?” Putri makin penasaran.
“Dia tetangga desa aku. Iya memang dia ganteng. Dulu waktu SMP banyak
disukai sama cewek-cewek. Apa lagi kakaknya yang cewek cantik banget
terus putih ya kaya Woto itu. Aku juga punya fotonya Woto.” Esti
menjelaskan.
“Masa? Aku minta donk, besok dibawa ya..” Putri mengharap.
“Insya Allah. Tapi fotonya lagi bareng sama temen-temen pas study banding.” jawab Esti.
“Ya nggak apa-apa yang penting ada Woto.” jawab Putri dengan senyumnya.
Esok harinya Putri menagih janjinya kepada Esti. Dimintanya foto Woto dari tangan Esti.
Sudah beberapa hari ini Putri tidak bertemu Woto lagi di angkot. Di
hatinya ada rasa kangen karena lama tidak melihat wajahnya yang tampan.
Oh Tuhan ada apa ini? Apakah ini yang dinamakan cinta. Dan sejak kapan
Putri tau tentang cinta? Bukankah dia tah pernah merasakan cinta.
Dulu
waktu di SMP dia banyak disukai cowok-cowok tetapi dia tidak pernah
memberikan respon apa-apa. Apa mungkin dia belum ingin mengenal cinta
atau dia belum menemukan seseorang yang mampu mengisi hatinya? Tapi
mengapa dia memilih seseorang yang baru dia kenal dan belum tahu betul
karakternya. Tetapi itulah yang sedang Putri rasakan. Entah itu perasaan
apa dan bagaimana datangnya.
Hari ini mungkin Putri bernasib mujur. Seketika rasa kangen itu
hilang dari hatinya. Setelah melambaikan tangannya ke arah angkutan dan
mau masuk ke dalam, Putri sempat terkejut melihat semua penumpang
cowok-cowok anak sekolah semua. Satu di antaranya adalah Woto. Ternyata
semua cowok-cowok itu adalah teman Woto. Putri hanya duduk terdiam
karena malu. Tak lama kemudian salah satu di antara mereka meminta
kenalan. Woto pun mulai menggoda Putri meminta kenalan. Tadinya Putri
hanya diam tidak merespon permintaan perkenalannya.
Tetapi setelah salah
satu di antaranya menyebut namanya, Putri akhirnya mau angkat suara.
Satu per satu Putri berjabat tangan dengan mereka. Putri tak mengerti
mengapa mereka tahu namanya, tetapi tak peduli mereka tahu namanya dari
mana. Baginya bisa berkenalan dengan Woto itu sudah sangat bahagia.
Mungkin menjadi kenangan yang tidak akan pernah dilupakan.
Woto sempat meminta nomor Hpnya dan Putri pun memberikannya. Sejak
itulah kedekatan Woto dan Putri mulai terjalin. Setiap sepulang sekolah
Woto selalu menghubunginya melalui SMS atau menelpon sekedar ngobrol
sebentar. Putri merasakan kalau Woto sepertinya juga menyukainya.
Bukanya GR tapi kelihatannya seperti itu. Tetapi Putri belum yakin
dengan perasaannya. Apa mungkin cowok setampan Woto naksir sama aku?
Di kamarnya Putri masih muter-muter kaya obat nyamuk sambil megangin
kepalanya. Dia masih tidak percaya dengan yang barusan didengarnya.
Rasanya seperti mimpi, mencoba mencubit pipinya sendiri tapi rasanya
sakit sekali. Ini memang nyata bukan halusinasi semata. Ternyata
perasaannya selama ini benar kalau Woto pun menyimpan perasaan yang
sama. Tadi Woto nembak Putri walaupun nggak ngomong langsung hanya lewat
telepon.
Dia tidak langsung memberikan jawaban, butuh waktu untuk
menjawab katanya. Woto juga mengerti dengan keputusan Putri dan
memberikan waktu untuk menjawabnya. Putri masih bingung harus menjawab
apa. Dia memang mencintai Woto tapi apa ini semua tidak terlalu cepat
untuk menjalin hubungan. Woto dan Putri memang belum terlalu lama saling
mengenal mungkin sekitar 6 bulan. Mereka berdua pun jarang bertemu,
komunikasi hanya lewat ponselnya.
Di kelasnya Putri curhat dengan Esti, dia menceritakan semuanya.
Memang selama ini Erna dan Esti lah yang tahu tentang kedekatannya
dengan Woto. Sedikit ingin mengetahui karakternya, secara Esti lah yang
pernah sekolah bareng Woto malah 3 tahun sekelas terus. Putri meminta
pendapat Esti, katanya diterima saja Woto itu anaknya baik dan
pengertian.
Setelah beberapa hari Putri menunda jawabannya akhirnya dia menerima
cintanya. Kini Putri dan Woto sudah resmi jadian. Sudah beberapa bulan
menjalani hubungannya nampaknya kegembiraan masih nampak di wajahnya.
Saling percaya dan memahami itu lah yang menjadi kunci hubungannya
selama ini. Mereka sangat menikmati masa pacarannya. Setiap malam minggu
atau hari minggu mereka menyelakan waktu sedikit sekedar mencari udara
segar membuang penat dan melepaskan rasa kangennya. Hubungan mereka
terlihat sangat romantis.
Mungkin mereka telah menemukan tambatan
hatinya yang selama ini diidamkan. Bahagia selalu terlukis di senyum
manisnya. Ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Teman-temannya
kadang merasa iri dengan hubungannya yang romantis. Putri tersenyum dan
menjawab hanya satu kuncinya saling percaya.
Di buku diarinya Putri menulis, mungkin ini yang pertama kalinya dia membuat kata-kata indah.
“Memandangmu adalah suatu anugrah bagiku,
Mengenalmu adalah suatu kebanggaan bagi diriku,
Memanggil namamu adalah suatu keindahan bagi hatiku,
Mendengar suaramu adalah kedamaian bagi jiwaku,
Bagiku kau lah lelaki yang terhebat dalam hidupku,
Dan kan selalu ada dalam hatiku.”
SELESAI
Cerpen Karangan: Liana Suci R